Saturday, April 18, 2009

Life was like a box of chocolates

and what u've got? tanya temanku.

.....

entahlah, ada orang-orang yang menyukai coklat dan ada yang lebih menyukai strowbery. Dab Gump, Forest Gump adalah orang yang menyukai coklat, atau setidaknya ibunya.

My momma always said, "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get." ~forest gump~

Itulah indahnya hidup, menebak-nebak apa yang akan terjadi, memperjuangkan dengan peluh agar terjadi dan menjalani ketika terjadi, atau mungkin kadang terbilang: itulah tidak enaknya hidup.dan orang-orang yang bersemangat, yang tiap hari bangun pagi dan menyalakan hidupnya sendiri akan begitu teliti merancang kotak coklat mana yang akan dipilihnya, tapi ternyata memang hidup adalah membuka kotak itu, rencana yang matang bisa menjadi coklat yang basi.

Knowing , dimana Nicholas Cage akhirnya mati, mengatakan kalau knowing is everything. mengetahui masa depan adalah harapan atas segala-galanya, iyakah? lalu apa yang terjadi jika kau tahu apa isi kotak coklat itu dan kau tak punya pilihan selain memakannya? dan kau tahu jauh-jauh hari bahwa kau harus memakannya juga? sekotak coklat yang legam dan pahit.

ibuku adalah orang yang teguh. katanya, biarkan saja kotak itu terbuka jika memang harus terbuka, makanlah jika itu sudah wakunya, dan jangan meyesal jika tak sesuai harapan. hidup adalah menjalaninya dengan tidak menyesal.

....

and what u've got? tanya temanku.

aku tidak begitu tahu beda antara coklat satu dengan yang lain, aku bukan penikmat coklat. ayah dan ibuku juga bukan, mereka memakan coklat yang diberikan kepada mereka dengan seadanya, aku juga, dengan bahagia.

mungkin ini adalah coklat swiss, mungkin juga tidak.
kau mau mencicipinya?

Strange creatures we are, even to ourselves.



masih ingat quote itu? The Wind That Shakes the Barley (2006 - Ken Loach). yah, mengingat Damien dan Teddy adalah membayangkan diriku sendiri, membayangkan akan sebuah keinginan yang muluk dan kadang tidak sadar akan apa yang seharusnya dijalani, kini dan nanti.

beberapa malam kemaren, bersama seorang teman yang adalah festival koordinator sebuah festival kelas Asia memandang langit-langit kamar dan bertanya masing-masing diri kita sendiri: apa rencanamu tahun ini?

pun pertanyaan segampang inipun kami sulit menjawabnya, karena ternyata rencana adalah hal yang sama sekali berbeda dengan cita-cita. besok aku bisa bilang berencana pergi keluar kota atau entah, dan lusa mungkin aku akan menyelesaikan postpro sebuah project, tapi minggu depan, atau bulan dan tahun depan, untuk cita-citamu, apa rencanamu?

Teddy dan Damien mempunyai cita-cita yang sama, mempunyai sejarah masa lalu yang seragam, tapi mreka memilih ajalan yang berbeda, mernecanakan semuanya dengan berbeda, mengambil dan menyikapi resiko dengan berbeda dan ternyata, mereka mendapati ending yang berbeda pula.

itulah beda yang paling jelas antara rencana dan cita-cita.

orang ini, yang mengemas ruhku, adalah makhluk yang bahkan dengan bersamanya lebih seperempat abad ini pun, aku masih belum memahaminya juga.

strange creature we are, even to ourselves.

jadi temans, apa rencanamu di tahun ini?

Friday, February 6, 2009

Atjeh



berangkat ke aceh,
cimeng, dodol cimeng, kopi cimeng, apa lagi?

ada puisi yang tak terkuburkan yang dishoot garin dengan tergesa-gesa, ada juga black road yang entah seberapa jauh bisa dipercaya, dan ada orang-orang yang mencari uang dengan menjual kemanusiaan. damn sebentar lagi, aku menjadi bagiannya.

dan ada Tjoet Nya Dhien, seorang perempuan yang rela.
ah tidak, Dhien tidak lagi di aceh,,


Tanggal 11 Desember 1906, Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang waktu itu, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok. Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.

Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara. Melainkan memilih menempatkannya disalah satu rumah milik tokoh agama setempat. Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta dan menderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 08 November 1906 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan tua itu.

Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan tua itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatannya yang sangat buruk, perempuan tua nyaris tak pernah keluar rumah. Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung.

Sesekali mereka membawakannya pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu yang belakangan karena penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama disebut dengan Ibu Perbu. Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan tua yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah The Queen of Aceh Batlle dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien. Ya, hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi.

Jauh dari tanah air dan orang-orang yang dicintai.

(source : http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/cut-nyak-dhien)

Sunday, January 25, 2009

whoaa I am an alien, I am a legal alien




which warmest?

sebuah gelas teh jahe panas di kursi dekat tungku penjual angkringan di sudut kota jogja, atau segelas vodka with ice in a small bar, midnight in deep freezing newyork?

aku memilih di kamar dengan hujan yang belum selese. kamarku yang dirumah, di kaki gunung merapi yang tiap malamnya angin menusuk dan memaksa ibuku memakai sweater dan jaket, dengan teh hangat dengan dua sendok penuh gula.

"I do not drink coffee, I take tea my dear "

kadang ternyata kehangatan itu adalah pengartian yang subjektif akan rasa nyaman. aku tidak meminum kopi karena aku tidak suka meminumnya, bukan karena aku tidak suka akan rasanya, kopi menyisakan remah-remah kecil di gigi yang membiat tidak nyaman. juga karena aku tidak suka membuatnya. dan teh adalah sesuatu hal yang lain, ia adalah keterwakilan dari sebuag rasa berada di rumah, entah teh apapun itu, karena ternyata aku juga tidak tahu merk apa teh yang dibuat ibuku, pun rasanya. semua tersamar oleh rasa gula dua sendok dalam segelas kecil air panas.

I do not drink coffee, I take tea my dear
I like my toast done on one side
You can hear it in my accent when I talk
I am an Englishman in New York

dan dua hari kemaren, bergelas-gelas teh jahe hangat di dekat tungku di halaman depan kantor di angringan yang baru tertuang berkali-kali. seorang teman dengan band dan gitar barunya bermain menyanyikan lagi itu. ada orang-orang yang hangat duduk berhimpitan di kursi yang rapat, di luarbekas hujan masih terlihat. namanya mas encik, bukan arab, tapi joke orang-orang mengatakannya mirip onta, dan seorang vokalis jasmine menyanyikan lagu itu:

whoaa I am an alien
I am a legal alien
I am an Englishman in New York

ya, kami memilih untuk meminum teh jahe dan merapat di dekat tungku, karena ternyata, kehangatan itu adalah merasa dekat, merasa di dekat rumah atau orang-orang yang dekat.
dan tidak merasa menjadi alien

kehangatan itu adalah meminum teh dan merasa di rumah.


*Sting - Englishman In New York

Friday, January 23, 2009

Do you believe in tooth fairy?



kepada apa kita harus percaya sebenarnya?

dulu aku percaya pada hantu di bawah kolong tempat tidur,
aku juga percaya cerita mbah putri bahwa setiap senja 'ono dewo nganglang jagat'. jangan tidur atau berkeliaran pada waktu itu.dan aku juga percaya bahwa keris ayah adalah sebuah besi tua yang aneh, yang beberapa kali bergerak dan 'ribut' sendiri di dalam lemari.

keluargaku adalah islam jawa, dekat sekali dengan sebutan muslim proletar.
namun dikotomi muhammadiyah - NU tidak masuk dalam hitungan kami. alih-alih memilih islam garis keras, kata ayah, agama itu 'ageming aji'. agama adalah bagaimana kita memakainya dan yang menuntun perihal hidup dan bagaimana menjalaninya.

pun aku, kepada siapa aku percaya? aku percaya pada ayahku.
aku percaya bahwa sex sebelum disebut sebagai 'zinah', ia adalah proses biologis impulsif yang semenjak eve memetik buah apel, proses ini sudah diciptakan. dan kenapa sensasinya 'indah' karena ini adalah berkah yang harus disyukuri. tapi aku juga percaya pada 'keharamannya' jika dilakukan diluar prosedur. tapi aku lebih percaya lagi kalau Tuhanku maha memaafkan.

aku juga percaya bahwa asap rokok mempunyai kandungan nikotin, tart, carbon yang mungkin juga dalam hal perusakan terhadap sistem tubuh sebanding dengan asap knalpot di jalanan. aku percaya bahwa jauh disana, tetangga-tetanggaku sedang khawatir akan tanaman dan simpanan tembakaunya gara-gara beberapa gelintir orang berjenggot yang sedang 'Ijtima' tentag rokok. aku percaya bahwa perikehidupan jutaan orang yang diantara mereka adalah orang-orang islam proletar, muslim berkalung surban, NU, muhammadiyah, militan, sedang terancam.

aku tidak percaya pada MUI, aku percaya Ijtima', aku tidak percaya pada apa yang mereka percaya, aku percaya pada gudang garam, aku tidak percaya bahwa ia haram. aku tidak percaya bahwa dosa dan tidak dosa ditentukan oleh orang-orang berjenggot yang entah siapa dan darimana asal pemikirannya, aku percaya bahwa mereka sedang bermain menjadi tuhan.

ayahku, ibuku adalah muslim proletar, ayahku tidak merokok, ibuku tidak bersentuhan dengan tembakau, aku tidak mempunyai kesulitan untuk berhenti merokok, tapi aku tidak percaya rokok itu adalah sumber dosa.

aku tidak percaya pada peri gigi.

Thursday, January 8, 2009

Chigurg vs Markum

Anton adalah sebuah karakter mesin pembunuh, emotionless, compassionless. dia sekaligus juga adalah mesin pencari yang efektif, tenang dan pemikir yang cepat. Anton Chigurg adalah karakter rekaan yang diperankan oleh Javier Bardem dalam No Country for Old Men. Chigurg dalam perannya disini memakai dua property yang dominan dalam perannya, bolt captive tank dan coin.

masih inget ketika dia bilang: "Would you hold still, please, sir?"
ketika dia ingin mengambil mobil dari seorang tua di pinggir jalan, dan lalu menempelkan captive bold
atau pas dia di sebuah toko di pompa bensin: "what the most you've ever lost in a coin toss?"

Sementara Jimmy Markum, yang diperankan Sean Pean di Mystic River adalah karakter dengan emosi tinggi dan tatapan yang kuat. pelacak dan bergairah. tipe seorang grup leader yang dominan. Jimmy dalam karakter ini adalah seorang tua yang marah karena anaknya dibunuh.

"And it's really starting to piss me off, Dave! She's my own little daughter, and I can't even cry for her! "

dan dua karakter diatas semacam menghantuiku, semacam mengatakan 'use me, am beter'. aku memang pengagum karya coen, sekaligus mengidolakan sean pean sebagai aktor. tapi alangkah susahnya mendaptkan karakter smacam sean pean dengan budget rendah disini. dan seorang Chigurg akan terlihat aneh dalam kultur masyarakat jawa.

hari-hari ini,, aku sedang berpikir tentang sebuah karakter untuk harimauharimau. tepatnya mematangkan karakter itu. namanya Rustam, militer, berusia sekitar 50an tahun, dan anaknya dibunuh. semacam Jimmy Markum mungkin nasibnya. seorang yang ramah dan tak tampak bahwa tanganya telah berlumuran darah. mungkin dalam skala hiperbolik mirip-mirip dengan karakter smiling general.

pengkarakteran adalah masalah genting dalam sebuah character driven film, walaupun harimauharimau aku pikir gak akan menyerahkan alur sepenuhnya kepada salah sebuah karakter.
pun seorang Rustam. perannya disini adalah semacam chigurg, dalam no country, menghegomi, mengintimidasi dan membatasi. dengan latar belakang motivasi semacam Markum dalam mystic river, balas dendam. tapi rustam tak akan sedominan chigurg, dia tak akan berlaku seperti chigurg, karena ada anak buahnya yang menjadi tangan kanan dan tangan kirinya. aku membayangkan dua orang ini adalah alter ego yang mewujud dari karakter rustam. negosiator yang tenang dan ramah seorang, dan dingin dan brutal seorang yang lain.

ah, alangkah susahnya bermain sebagai tuhan, mencipta dunia dan bermain-main dengan lakon.

*sedang menulis kembali

Thursday, January 1, 2009

Time goes, you say? Ah no! Alas, Time stays, we go.




Time goes, you say? Ah no! Alas, Time stays, we go.
~Henry Austin Dobson

Bagaimana jika waktu itu adalah sesuatu yang tidak bergerak, tidak bergulir. semacam degub jantung yang memompa darah ke ujung pembuluh-pembuluh. dan waktu adalah degub hidup itu juga, yang menggulirkan peristiwa, sedih, senang, khawatir, cemas, harap, gundah,, kitalah orang-orang yang berlarian itu, atau yang hanya berjalan. mengambil jatah peristiwa yang disediakan waktu itu. dan berlalu kemudian menyesal atau bahagia.

"Time is what prevents everything from happening at once."
~John Archibald Wheeler

Waktu adalah sistem yang berbaik hati mengatur agar semua masalah tidak datang bersamaan.

selamat mengantri jatah bahagia di angka tahun yang baru ini.
semoga semuanya terlalui dengan indah di tahun ini.
selamat tahun baru 2009